Rabu, 12 Desember 2018

Kon'banwa



Selamat malam,
dari aku, yang tidak bisa membedakan rasa cinta dan nafsu semata
Selamat malam,
Selamat malam, kuucapkan dengan sepenuh hati,
dari aku, pecundang yang tak mampu menyatakan perasaannya
Selamat tidur, begitu ucapku
dengan terkantuk-kantuk, dengan rasa ikhlas

Entah mengapa, mangkuk begitu mudah dibolak-balikkan
Ah tidak, yang menjadi batu itu aku, kau tetaplah burung
Bak burung, kita dulu saling berbagi cerita
Entah mengapa, kita sekarang seperti batu kali
Dan aku mengamati kalian dari dasar kali

Oyasumi, ah tidak, itu lebih seperti
omedetou, soshite sayonara

サラティガ市、弐千壱拾八年壱拾壱月壱拾五日(木)午後壱拾壱時

Sabtu, 08 Desember 2018

Yang Digariskan
















Aku masih ingat
ketika kau dan aku slalu bersama
tetapi kau lebih memilih dia

Aku masih ingat
ketika usahaku berjaya
namun akhirnya bangkrut juga

Aku juga masih ingat
ketika aku selama ini banyak yang menyayangi
tapi satu persatu mereka pergi tak kembali

Aku merasa
seperti aku ini bernasib buruk selamanya
dan tak berjasa macam tak ada guna

Tapi aku ingat
jodoh, rezeki, nasib, dan mati
Sudah digariskan oleh-Nya sejak aku dalam kandungan ibu

Maka dari itu, Ya Tuhanku
Kuserahkan diriku pada-Mu
Berikanlah apa yang terbaik bagiku dalam hidupku

サラティガ市、2018年9月24日(月)

Jumat, 07 Desember 2018

Sepiring Nasgor

Di tengah malam yang dinginnya ajigile sepiring nasi goreng kubuat mengobati laparku yang kutahan sejak pagi Sejenak ku memikirkan seseorang yang kukenal setahun yang lalu Ahhh Terbesit di fikiranku dulu keinginan untuk memilikinya Harapan pupus dia sudah ada yang punya Hati yang semakin mendingin lebih dingin dari nasi goreng yang belum kumakan Salatiga, Oct 2017
(Ok so from now i'll post my not-so-but-OC-poem, based on my feelings and/or social life around me)

Minggu, 11 November 2018

Tempat Kembali

「そろそろ帰ろう」

Pulo Gadung, 12 April 2018.

Waktu itu saya sedang berlibur di rumah paman. Pagi di hari Kamis, setelah melaksanakan salat subuh, saya bersiap untuk pulang, karena besoknya saya sekolah lagi. Sesudah saya berpamitan dengan bulik, kakek, dan nenek, saya diantar paman menuju Stasiun Pasar Senen.

Kali ini saya akan menggunakan KA Tawang Jaya Premium. Ini yang ketiga kalinya saya menggunakan jasa kereta api. Yang pertama kali waktu saya kelas 5 menggunakan KA Argo Bromo Anggrek dari Gambir ke Semarang Tawang (saya masih ingat keretanya menggunakan livery yang kalau saya sebut 'pecut lawas'), lalu kelas 7 menggunakan KA Senja Utama Semarang dari Pasar Senen ke Semarang Tawang.

Meski saya sudah 17 tahun, nomor identitas tidak saya isi dengan nomor KTP, karena belum jadi.

Sesampainya di stasiun, setelah berpamitan dengan paman dan Dek Yaqdhan, saya melakukan check in dan duduk di ruang tunggu. Tidak lama kemudian KA Tawang Jaya Premium masuk di jalur 1, padahal saya belum lama duduk hahaha 😂. Saya kemudian masuk ke Premium 1 dan duduk di kursi 2D.

Tepat sebelum pengumuman kedatangan kereta.

Kesan pertama ya, keretanya dingin. Ya, maklum lah, rangkaian yang digunakan masih baru (K3 0 18 xx, kalau tidak salah itu TS1 ya). Di dalam kereta ramai sekali, hampir semua kursi terisi penuh. Tapi, kursi sebelah saya masih kosong, entah orangnya belum datang atau memang kosong. Ternyata, beberapa menit sebelum kereta diberangkatkan, empunya kursi sebelah saya pun datang. Selang beberapa menit kemudian, kereta diberangkatkan.

Nganyari.

5, 40, 41, 35 dan, berangkat!

Berangkat tepat pukul 06.35 WIB, kereta melaju pelan, keluar dari Stasiun Pasar Senen. Kereta mempercepat lajunya selepas keluar Jakarta. Lalu saya memutuskan untuk memesan kopi ke prama dan prami yang lewat. Pemandangan persawahan Karawang sangatlah memukau mata. Menyeruput kopi sambil menikmati alam dari jendela kereta, memang terbaik lah, saikou dayo!

Persawahan Karawang

Kemudian sepanjang perjalanan, saya berbincang-bincang dengan penumpang lain di sebelah saya. Beliau adalah seorang dosen di salah satu universitas di Jakarta. Beliau akan pulang ke rumah orang tua beliau di Pati. Setelah sampai di Semarang, beliau akan menggunakan moda transportasi lain untuk sampai ke Pati.

Kereta sudah tiba di Stasiun Cirebon. Ada 1-2 orang dari Premium 1 yang turun di Cirebon. Setelah turun-naik penumpang, kereta kembali diberangkatkan.

Stasiun Cirebon

Kami kembali mengobrol. Berceritalah beliau tentang saudaranya, mengapa beliau bisa menjadi dosen, pengalaman, apapun diceritakan. Saya yang hanya bocah kemarin sore hanya mendengarkan dan mengangguk-angguk. Lalu kami berbincang tentang proyek di kanan-kiri rel, pemandangan alam, bahkan posisi kereta saat itu juga kami perbincangkan. Dan ini pertama kali saya mendapatkan teman yang usianya jauh lebih tua dari saya. Lalu, kami bertukar kontak WA.

Kereta kemudian berhenti di Stasiun Brebes. Kereta berhenti agak lama karena akan disusul oleh Kereta Api Argo Muria. Kami masih mengobrol sampai akhirnya jam makan siang pun tiba. Beliau menawarkan saya akan dibelikan Nasi Goreng Parahyangan, tetapi saya menolaknya dengan halus karena saya sudah dibawakan bekal dari paman saya yang isinya bebek bakar. Kemudian kami makan bersama.

Saat kereta berhenti di Stasiun Pemalang.

Sebenarnya saya ingin merekam pemandangan tepi laut di petak sekitar Stasiun Plabuan, tetapi saya tidak bisa karena saya duduk di kursi sebelah kanan, sementara lautnya ada di kiri kereta. Lagipula, saat itu kereta dalam kondisi ramai, jadi saya sedikit sungkan untuk merekam.

Ini di Stasiun Weleri.

Tak terasa kereta tiba di Stasiun Semarang Poncol. Di stasiun ini sangat banyak (bahkan hampir semua) penumpang Premium 1 turun. Kemudian kami mempersiapkan diri untuk turun di tujuan akhir Stasiun Semarang Tawang. Setelah turun, kami bersalaman lalu berpisah. Saya masih tetap di peron, guna mengambil foto, sebagai bukti fisik kunjungan.


Saya kemudian keluar dari area stasiun dan menyetop minibus tujuan Salatiga. Banyak cerita yang bisa saya kabarkan sesampainya di rumah. Menggunakan kendaraan umum untuk bepergian, memang ada kesan tersendiri dibandingkan dengan kendaraan pribadi menurut saya. Kita dapat bertemu dengan orang lain yang berbeda latar belakang, mendapat pengalaman baru, bahkan informasi yang penting atau tidak.

Setelah saya turun dari bis, dan berjalan melewati jalan kampung, saya tiba di rumah. Liburan kali ini menurut saya, cukup menyenangkan.

「ただいま、帰りました。」

owari

Kamis, 23 Agustus 2018

Ketika Yang Seharusnya Menyenangkan Malah Mematikan


Belakangan ini kita mendengar - atau bahkan melihat - perayaan-perayaan ulang tahun yg dilakukan anak usia sekolah seringkali menjahili temannya yang ulang tahun. Entah itu diikat di tiang listrik, dilempar tepung atau telur, atau semacamnya. Budaya-budaya seperti ini seakan lumrah di kalangan pelajar.

Seperti yang kita ketahui ulang tahun biasa kita rayakan sejak kecil. Kita ingat masa kecil dulu kita mengundang teman-teman sekitar rumah, lalu kita menyuguhkan berbagai makanan, kita memberi bingkisan berisi makanan ringan kepada teman-teman kita, dan kita diberi kado ulang tahun. Kebiasaan ini berlanjut di kehidupan dewasa, misalnya ketika di kantor kita juga merayakannya, tapi tidak menggunakan kue tart sebagai suguhan melainkan nasi tumpeng. Atau kalau lebih simpel kita menraktir rekan-rekan kerja di rumah makan atau kafe.

Namun ada yang berbeda dengan perayaan ulang tahun anak sekolah di zaman sekarang. Seperti yang sudah saya utarakan di atas, mereka menjahili temannya dengan mengikatnya di tiang, lalu dilempari tepung dan telur, atau disiram air. Kemudian mereka mengambil gambar, seakan mereka telah melakukan kegiatan yang mengasyikkan. Tapi sebenarnya hal ini sangat mubazir dan tak ada gunanya. Seperti kita ketahui tepung dan telur merupakan bahan makanan. Bukankah sebaiknya bahan makanan ini digunakan untuk membuat makanan. Terlebih lagi harga telur sekarang sedang tinggi-tingginya. Bahkan pernah ada insiden bahwa ada seorang siswa yang meninggal karena dijahili temannya saat perayaan ulang tahunnya. Anak itu diikat di tiang lampu lalu disiram dengan air. Alhasil dia kejang-kejang lalu dibawa ke IGD, namun sayangnya nyawanya tak tertolong

Yang menjadi pertanyaan adalah, perlukah diadakan perayaan seperti ini? Apakah cara merayakan ulang tahun seperti ini lebih banyak manfaat atau mudharatnya? Menurut saya, hal seperti ini tidak perlu dilakukan. Selain hanya akan membuang buang waktu dan barang yang berguna, juga dapat menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Dalam ajaran Islam Allah Swt. juga memerintahkan untuk tidak membuang-buang harta (dalam hal ini bahan makanan) untuk hal-hal yang tidak perlu. Seperti dalam Surat Al Isra' [17]: 27 yang berbunyi:

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Artinya: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”

Maka dari itu mari kita rayakan ulang tahun kita bersama teman dengan cara yang aman dan menyenangkan. Tinggalkan kebiasaan-kebiasan buruk macam menyiram air maupun melempari dengan telur.

Salatiga, 11 Dzulhijjah 1439

Kamis, 09 Agustus 2018

[Not So] First Post

Apa yang lebih parah daripada weaboo bau bawang?





🅱OTTOM TEXT